1578145976_b182779b0d

2 Dekade

(sumber gambar : http://www.flickr.com/ oleh alee2000)

Tepat 20 tahun silam, hari Senin di sebuah rumah bersalin di kota Depok, tepat sesaat sebelum Adzan Subuh berkumandang, adalah detik – detik bersejarah bagi saya. Karena pada hari itu Sang Maha Pencipta telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengabdi pada-Nya. Allah Azza wa Jalla mengizinkan diri ini lahir ke dunia dengan anggota tubuh yang lengkap dan tanpa cacat. Dan kedua orang tua saya memberikan nama dengan nama seorang yang memiliki akhlak terbaik di muka bumi yang disandingkan dengan waktu kelahiran saya, dengan harapan diri ini bisa meneladani akhlak seorang pemimpin terbaik yang pernah ada. Inilah saya dengan segala kekurangan dan kelebihan saya, “Muhamad Fajar”, mohon maaf jika selama 2 dekade ini ada kata – kata saya atau kelakuan saya yang menyinggung hati para pembaca.

Ulang tahun atau Milad adalah momen mengevaluasi diri, karena sejatinya umur kita di dunia berkurang satu tahun. Jika di kepala kita masih suka timbul pertanyaan, “Selama ini apa sih yang telah saya dapatkan?” maka niscaya kita akan menjadi hamba yang selalu kufur akan nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Bertanyalah “Selama ini apa sih yang telah saya berikan?” maka niscaya kita akan menjadi hamba yang diantar ke surganya Allah oleh amalan – amalan baik kita yang bermanfaat bagi orang lain.

Karena memang sebuah fakta yang tak bisa kita pungkiri, jika kita membicarakan mengenai umur, maka hal yang paling dekat dengan topik ini ialah kematian. Sudah sejauh apakah persiapan kita menuju evaluasi Sang Maha Adil nanti kelak? Karena mungkin beberapa detik setelah ini, esok, lusa, bulan depan, tahun depan, atau di waktu yang tak ada satu insan pun mengetahui, kita akan kembali kapada-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala hal yang kita lakukan di dunia, untuk para pembaca muslim, maka pertanyaannya “sudahkah Anda sholat?”. Nafas, harta, teman, keluarga, kesempatan menuntut ilmu, rejeki, adalah beberapa hal dari banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, maka jangan sampai kita belum juga mulai untuk mensyukuri nikmatnya dengan sholat 5 waktu. Paling hanya memakan waktu Anda tak lebih dari 15 menit satu waktu sholat. Jangan sampai nyawa ini direnggut ketika kita tak mengenal syukur kepada-Nya. Jangan sampai Allah mengazab kita di akhirat kelak, karena azab pada saat itu ialah azab yang abadi.

Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan saya kesempatan untuk berkarya di dunia ini. Dan sekali lagi mohon maaf untuk semua keluarga, tetangga, sahabat, sanak saudara sekalian, apabila sampai detik ini ada tindakan saya yang menyayat hati, atau ada hutang yang belum saya bayar atau ada barang pijaman yang belum saya kembalikan ( tolong diingatkan :D ). Dan tak lupa terima kasih kepada semua keluarga, tetangga, guru, dosen, sahabat, sanak saudara semuanya, karena telah membimbing saya sampai sejauh ini. Terlebih kedua orang tua saya, guru – guru saya, dosen – dosen saya, teman – teman yang mengenalkan saya kehidupan sosial pertama kali di TK pertiwi 1 Jambi, teman – teman di SDN 6 Jambi dan SDN Anyelir 1 Depok yang pertama kali mengajarkan saya arti teman itu sendiri, teman – teman di TPA / MDA Daarul Anshor yang menunjukan bahwa di dunia ini Allah sedang menyeleksi hamba – hamba-Nya, teman – teman di SMPN 1 Depok yang walau cuman sebentar kenal dengan saya tetapi tetap menjadi kenangan tersendiri untuk saya, teman – teman di SMPN 2 Depok yang mengajarkan saya tentang keberagaman sifat dan karakter manusia, teman – teman seperjuangan di SMAN 1 Depok yang tak terlupakan karena di sinilah saya bertemu para pemuda dengan akhlak terbaik yang pernah saya temui, dan teman – teman di kampus tercinta Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, angkatan 2008, 2007, 2006, 2005, 2004, 2003, 2002, 2001, dst (kalo masih ada yang merasa kenal dengan saya) karena di sinilah saya belajar untuk berpikir lebih dewasa dan lebih kritis, serta belajar menjadi orang yang lebih mandiri dan lebih bermanfaat bagi orang lain.

Akhir kata, doakan saya bisa memberikan yang terbaik di dunia ini hingga akhir masa, amin. Terima Kasih.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
(Ar-Rahman, diulang sebanyak 31 ayat)

Categories: Artikel, Event, Motivasi

Darkness-Rise2

Bias

“Disappointed, disillusioned, re-affirm my view,
We’ve all a story to sell,
We’ve all a lie that we tell,
And it goes on and on, and on and on.”

Kebenaran dan “kebenaran” tidak lagi bisa dipisahkan dengan mudah. Mata publik mudah sekali tertipu dengan media, ketika media bilang “A” telah terjadi, maka semua merasa kejadian “A” benar – benar terjadi. Seperti sebuah pemberian sugesti yang sering sekali dilakukan oleh seorang penghipnotis. Media itu sendiri pun dengan mudahnya menyebarkan berita yang belum tentu benar, bahkan mungkin tahu bahwa berita itu bohong, namun demi popularitas atau pun uang justru malah menyebarkannya. Akibatnya, semakin hari, kejujuran semakin mahal dan “kebenaran” bisa diciptakan dengan harta, semua hal pun bisa di kuantisasi dan dibeli dengan uang. Masihkah ada orang – orang jujur yang akan membela kebenaran dan kejujuran di dunia ini?

Negeri ini dilanda sebuah krisis moral yang cukup serius, yakni hilangnya urgensi mengutamakan kejujuran. Bukan hanya segelintir orang, tetapi banyak orang. Mungkin sebagian orang menganggap hal ini hal sepele, tetapi ketahuilah, bahwa ketidakjujuran akan menjadi narkotika paling adiktif di dunia. Seperti lirik yang saya tulis di awal tulisan ini yang merupakan bagian dari lirik lagu “Is This The Best It Gets” yang dinyanyikan oleh band dengan nama Budapest, manusia mulai terbiasa berbohong dan perlahan melumrahkan suatu kebohongan.
Salah satu cabang dari kebohongan itu sendiri adalah plagiarisme yang juga dibahas di artikel ini. Artikel tersebut membahas tentang copy – paste, sebuah plagiarisme akut yang sebagian orang merasa hal itu lumrah dengan beralasan terlalu banyak pekerjaan atau tugas sehingga tidak sempat untuk membuatnya sendiri.

Di satu sisi yang lebih luas lagi, ketidakjujuran melahirkan sebuah masalah besar bagi bangsa ini, yaitu korupsi. Bukan semilyar dua milyar nominal yang mereka curi, bahkan mungkin triliunan. Koruptor menjadi sebuah profesi gelap yang dianggap biasa di kalangan pejabat, seperti layaknya menyontek dianggap biasa di kalangan sebagian pelajar bahkan pengajar saat ini. Ketika ada seseorang mencoba mengehentikan korupsi, para koruptor tidak terdiam, mereka bahkan mengorganisasikan sebuah kejahatan terselubung agar sang pemberantas koruptor berubah status dari pahlawan menjadi penjahat.

Tak perlu menembak mati koruptor, karena bukan orangnya yang pantas mati, tetapi budaya berbohong itulah yang menjadi akar korupsi yang pantas mati. Negeri ini haus akan sosok pahlawan yang punya nyali untuk memberantas bibit kejahatan yang bersarang di alam bawah sadar setiap manusia. Negeri ini kekurangan orang yang bisa mengacuhkan bisikan setan yang ada dalam hati.

Kejujuran seperti intan, di kubur di dalam lumpur sekalipun, tetap saja orang akan tahu itu intan. Jadilah penyelamat negeri dengan mengutamakan kejujuran, belajarlah untuk membedakan suara hati dan bisikan setan. Ingatlah suatu hari nanti, semua perbuatan kita akan di pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Bersikaplah jujur, karena dengan kejujuran inilah kita akan membangun Indonesia menjadi jauh lebih baik dari sekarang.

Categories: Artikel, Tragedi