Lite-of-plant

Luar Biasa!

sumber gambar : http://www.flickr.com/photos/r-z/689132438/sizes/l/

Kata orang bijak kehidupan adalah guru terbaik. Hidup di sekitar orang-orang yang punya kecerdasan emosional, spiritual dan intelektual adalah hal yang ‘merepotkan’ namun luar biasa. Merepotkan karena seringkali lelah bersaing dengan mereka dalam segala hal. Luar biasa karena inilah nikmat hidup di dunia di sekitar orang-orang hebat. Setidaknya dalam enam tahun terakhir, inilah yang saya rasakan. Sejak dari SMA kelas X lebih tepatnya.

SMA saya adalah SMA yang sering disebut SMA unggulan di kota tempat saya tinggal. Tetapi perlu diingat saya memilih SMA ini alasan utamanya bukan karena SMA tsb unggulan, tetapi lebih karena SMA tsb dekat dengan rumah saya. Ketika SD saya sempat merasakan pendidikan Islam di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) dan MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) Daarul Anshor. Dengan riwayat pendidikan itu, bocah yang baru masuk SMA ini, sempat merasa diri paling sholeh. Sampai suatu ketika saya bertemu dengan teman-teman saya di SMA yang berasal dari sebuah SMP IT di kota Depok. Di sinilah awal kedewasaan saya dalam berpikir mengenai kehidupan saat ini dan kehidupan setelah kematian. Mereka para pemuda yang berbeda karena berani secara terang-terangan berpikir Idealis dan Spiritualis di tengah krisis moral siswa-siswi SMA. Tetapi walaupun begitu sama sekali tidak eksklusif.
Sholat sunnah (Dhuha, rawatib) setiap hari, berdoa dengan dikeraskan (di-zhohirkan) setiap kesempatan (mulai dari lomba, akan tampil di depan publik, ujian, belajar dll.), berorientasi pada mencari ridho Sang Maha Pencipta semata, selalu berempati pada lingkungan, berpikir solutif, bertindak kontributif dan selalu mengajak banyak orang menuju jalan kebaikan tanpa memilih-milih seseorang itu ‘terlihat’ pantas atau tidak untuk diajak. Saya pun terbingung-bingung dengan diri saya sendiri dikaitkan dengan fenomena tersebut. Pada akhirnya saya sadar bahwa saat itu iman saya setipis rambut atau bahkan lebih tipis lagi, karena ternyata saya belum berhasil benar-benar menghadirkan keimanan dalam setiap aspek kehidupan saya. Belum merasa diri diawasi oleh Sang Pencipta, belum merasa diri saya ini suatu saat akan mati dan diminta pertanggungjawabannya kelak, hal ini tercermin dari perilaku saya dan wawasan tentang agama saya sendiri yang hanya membatasi wawasan tersebut dalam tataran pemahaman tanpa implementasi.

Tak selesai sampai di sini, orang-orang di sekitar saya tadi ternyata bukan hanya para pemuda sufi funky tetapi juga akademisi topcer (ngetop dan otaknya encer). Terbiasa ranking 5 atau 10 besar di SMP membuat saya shock karena harus mengalami ranking belasan di SMA. Saya yang terlalu banyak bermain atau mereka yang memang cerdas sekali? itulah pertanyaan yang tertambat dalam pikiran saya. Dua tahun pun berlalu dan akhirnya saya pun mengerti salah satu alasan kuat kenapa mereka juga luar biasa di akademis. Yaitu karena kerja-kerja mereka untuk menebar kebermanfaatan kepada orang-orang di sekitar mereka dan keikhlasan merekalah yang membuat Allah SWT memberkahi setiap tindak tanduk mereka, termasuk belajar. Mungkin waktu belajar orang-orang yang diberkahi tidak lebih banyak daripada para kutubuku sejati, tetapi semua ilmu pengetahuan itu sejatinya adalah milik zat Yang Maha Mengetahui. Sehebat-hebatnya kita membaca dan menghafal, jika Dia tidak menghendaki kita berhasil, maka tak satupun materi pelajaran yang kita ingat.

Saya pun mulai membenahi diri dan tiga tahun berlalu. Alhamdulillah saya berhasil masuk ke PTN favorit serta menuntut ilmu di jurusan yang memang cukup saya minati. Orang-orang seperti yang saya ceritakan di atas semakin kecil rasionya jika dibandingkan dengan para pemuda cinta dunia dan menuhankan harta (gaya/fashion, penilaian orang), tahta (IPK, barang-barang bergengsi), wanita (pacaran). Orang-orang yang seimbang dalam kehidupannya yang saya temukan di kampus agak berbeda namun perbedaan inilah yang menarik, semakin sedikit tetapi semakin berkualitas. Taraf kualiatasnya memang level kampus kampus favorit. Walau terkadang sedikit (satu atau dua) dari orang-orang sepert ini ada tindakannya mengecewakan saya. Tetapi wajar, mengutip kata seorang sahabat “Kita manusia bukanlah malaikat”, sehingga wajar jika salah. Namun yang terpenting adalah apakah kita mau mengakui dan menyadari kesalahan tersebut serta memperbaikinya atau tidak.

Alhamdulillah, suatu nikmat yang luar biasa bisa menjalani kehidupan yang saya dikelilingi orang-orang hebat. Semoga pada hari esok kita bisa lebih baik dari hari ini. Dan semoga diri kita lebih baik dari yang orang-orang kira.

Wallahu’alam.

Categories: Kehidupan, Opini