Lite-of-clock

21

sumber : http://www.flickr.com/photos/robbie73/3387189144/sizes/l/


Hari berganti hari, begitu cepat semuanya berlalu. Detik ini takkan bisa kita kejar dengan pesawat berkecepatan cahaya sekalipun. Semakin banyak kesalahan yang diri ini lakukan seiring dengan bertambahnya umur. Hanya bisa berharap semoga Sang Maha Pengampun mengampuni dosa-dosa hamba-Nya ini yang setiap detiknya malah semakin bertambah.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(OS. Al Ashr 1-3)

“Hidup itu cuma mampir (tapi menentukan hidup setelah mati), kok masih males-malesan!”, itulah kalimat yang teringat kembali ketika tak terasa siang berganti malam begitu cepatnya. Baru bangun subuh, eh kadang ketiduran lagi, abis itu berangkat ke kampus, pulang udah sore, seringnya malam, bergitu setiap hari. Tiba-tiba ujian tengah semester, kemudian tiba-tiba ujian akhir semester, dan tanpa terasa sekarang sudah menunggu-nunggu nilai keluar. Sampai nilai keluar lalu memulai semester yang baru.

Perasaan baru kemarin piala dunia, eh udah piala dunia lagi. Perasaan baru kemarin lebaran, tak terasa udah mau Ramadhan lagi …

“Allahumma baariklana fi rajaba wa sya’baana wa balighna ramadhan”
Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami kepada bulan Ramadhan.

Terkadang iri sama Nobita yang gak tua-tua di Tipi, Tsubasa yang lari ke gawang ga sampe-sampe, sempat mikir ke sana kemari pula. Mereka seolah punya waktu tak terbatas untuk melakukan banyak hal. Namun apa daya, satu hari ya 24 jam, satu bulan cuma paling banyak 31 hari, kita hanya bisa berusaha yang terbaik dengan waktu dan tenaga yang terbatas. Tidur aja sudah menghabiskan kira-kira 1/4 umur kita (6 jam sehari), masak sisanya mau disia-siakan?!

Mudah-mudahan bukan hanya pas milad doank kita merenung. Menangis karena dosa yang setumpuk, meminta kemurahan hati-Nya tuk mengampuni. Dan semoga keimanan ini tidak akan dicabut hingga nanti kembali kepada-Nya sebagai hamba yang Ia ridhoi. Karena seorang hamba, takkan mungkin masuk surga karena amalnya (saja), tetapi karena Dia meridhoi diri kita. Dan semoga perbuatan baik yang kita lakukan di dunia ini berbuah ke-ridho-an dari Sang Khalik.

Categories: Kehidupan, Suka Cita