2762493879_a0572570f0_z

Media

sumber gambar : http://www.flickr.com/photos/will-lion/2762493879/sizes/z/

Media saat ini telah menjadi benda yang cenderung merusak. Apapun medianya, TV, internet, handphone, telepon, email, tempe (eh salah ini mah makanan), radio dan lain-lain tetap punya potensi merusak. Bukan salah media, tetapi salah manusia sebagai pengguna media. Terutama sang pemberi informasi. Ketidakhati-hatian dalam penggunaan media dan ketidakpernahan belajar agama dengan serius bisa jadi salah satu penyebabnya. Kerusakan yang terjadi tidak kalah parah dengan radiasi nuklir yang menyebar bersama hembusan udara. Mungkin lebih parah lagi, karena yang diserang bukan fisik tetapi ruh. Dan yang rusak bukan otot tetapi otak.
Konten negatif media bisa dikatakan merupakan masalah klasik. Tulisan ini dibuat bukan untuk merendahkan orang lain ataupun mem-“bersih”-kan diri sendiri. Tetapi hanya tumpahan rasa muak akan keadaan media hari ini.
Media sebagai bagian dari kemajuan teknologi pasti memiliki potensi kebaikan sekaligus potensi kerusakan. Butuh waktu, dana, kesadaran dan tenaga yang tidak sedikit untuk memperbaiki media. Hal yang terpenting adalah mencegah kerusakan yang disebarkan oleh berbagai media dengan cara membentengi diri. Sebuah firman Allah SWT.
“Adapun jika datang kepada kamu sekalian petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 132)
Pada ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berpedoman pada petunjuk-Nya. Berikut salah satu hadist yang menjelaskan bentuk kongkrit mengikuti petunjuk-Nya.
“Allah menjamin siapa saja yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan kandungannya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat kelak” (Dikeluarkan oleh ibnu Abi Syaihah, Al-Hakim dan dishahihkannya)
Hadist di atas membahas tentang ngaji. Ngaji berasal dari kata mengkaji. Tilawah (membaca) Al-Quran adalah bentuk ngaji yang paling sederhana. Dalam konteks membentengi diri dari berbuat maksiat dan membentengi diri dari kerusakan media, tilawah saja belum cukup. Kita harus berusaha mencari majelis atau perkumpulan yang mengkaji lebih dalam tentang nilai-nilai agama Islam yang terkandung dalam Al-Quran. Majelis yang cukup populer beberapa diantaranya mentoring keagamaan, kultum dan acara ceramah di tipi, majelis ta’lim atau ceramah umum offline alias langsung berhadapan dengan ustadz.
Jika mau dibahas asalnya darimana saja metode-metode ini, maka akan panjang ceritanya (saya juga gak tau-tau amat :p). Jadi saya akan jabarkan saja pendapat saya tentang hal-hal tersebut. Ceramah umum sangat efektif untuk menjadi media penambahan wawasan, mengenal tentang sesuatu ataupun memperdalam pengetahuan tentang sesuatu. Tetapi saya rasa masih belum cukup efektif dalam hal mendorong diri kita menerapkan pengetahuan yang sudah kita dapatkan. Kita butuh majelis yang lebih kecil yang diisi dengan orang-orang yang punya niatan untuk belajar Islam dan menerapkan nilai-nilai Islam perlahan tapi terus dicoba dan diusahakan. Mungkin salah satu bentuk majelis ini adalah mentoring keagamaan.
Mentoring keagamaan pun hanya akan menjadi efektif jika kita benar-benar punya niat untuk belajar dan meminta kepada Allah SWT supaya diberikan hidayah dalam mempelajari agama Islam. Dan yang terakhir kembali lagi solusinya adalah ibadah sunnah rutin, semisal tilawah. Sebagai salah satu ibadah sunnah yang simple. Tilawah menjadi sebuah pemenuhan kebutuhan ruh yang bisa dilakukan dimana saja (selama tempatnya bersih dan kita juga dalam keadaan punya wudhu). Mengikuti ceramah umum, mentoring dan tilawah adalah bekal awal. Masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri. Tips lainnya jika sempat akan di-post pada kesempatan berikutnya.
Akhir kata, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi nasihat dan pengingat bagi penulis dan pembaca.
Wallahu’alam.

Categories: Artikel, Opini