Tidak Cukup Satu Jam

Bermula dari sebuah kabar tentang adanya jalan dari dusun Tatibajo menuju dusun Rura, tempat salah seorang rekan pengajar muda tinggal di sana. Rasa penasaran muncul di dalam hatiku. Anak-anak Rura sering datang ke Tatibajo untuk bermain sepak bola bersama anak-anak Tatibajo. Mereka datang melalui jalan tersebut. Jalanannya dapat dilalui anak-anak dengan cara menyusuri sungai yang memang mengalir dari dusun Tatibajo ke dusun Rura.
Pada hari Minggu yang cerah bersama beberapa anak, saya pun berniat mencapai suatu determinasi yang sebenarnya tidak terlalu penting. Melalui jalanan tersebut menuju dusun Rura. Saya pun berangkat bersama beberapa anak-anak SD dan SMP yang tinggal di Tatibajo. Beberapa diantara mereka sudah pernah melalui jalanan ini, sebagian lagi belum pernah. Anak-anak tersebut antara lain, Memi (kelas 6 SD, adik angkat saya) dan kakaknya Aldi (kelas 1 SMP, adik angkat saya juga didusun Tatibajo), Samira (kelas 5), Irma dan Lilianti (kelas 2 SMP, sepupu Memi yang tinggal dirumah keluarga Bapak Panji), Erni dan Risma (teman sekelas Memi), Rian (anak pak Kepala Dusun yang seharusnya kelas 5 SD, tetapi sudah dua tahun mogok sekolah), dan Suarman (kelas 2 SD).
Kami pun memulai petualangan kami pukul 13.00 WITA setelah melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Perjalanan dimulai dengan pikiran  terbesit bahwa kamera yang saya bawa baterainya belum di charge. Saya merasa hal tersebut tidak masalah. Menurut keterangan Samira, perjalanan ke dusun Rura melalui jalan tersebut “tidak cukup satu jam” alias tidak akan melebihi satu jam, maka saya pun cukup percaya diri dengan kemampuan saya.
Perjalanan pun dimulai dengan berbelok kanan ketika melalui jembatan sungai besar, bukan menyebrangi jembatan. Jalan setapak menuntun kami ke rintangan berupa jalanan tanah yang menanjak dan menurun dengan tajam, lebih dari 45°. Pada awalnya jalanan tidak licin tetapi nanti di tengah jalan kami harus ekstra hati-hati karena sandal dan kaki kami yang menyebrangi sungai memaksa jalanan tanah menjadi licin. Kami memang juga diharuskan menyebrangi sungai dengan cara melompat dari batu ke batu sambil sesekali kaki kami tercelup ke sungai yang dangkal. Udara yang panas sejak pagi menyebabkan sungai dangkal, namun jika hujan, sungai akan jadi medan yang berbahaya karena airnya akan meninggi dan saya tidak mahir berenang (baca: tidak bisa berenang).
Anak laki-laki berjalan begitu cepat bagai ninja di film animasi Jepang. Saya berjalan bersama anak-anak Perempuan karena tertinggal, dasar memang saya anak yang besar di kota, kurang militan. Jam tangan saya menunjukan pukul 14.00 WITA, satu jam telah berlalu dari waktu keberangkatan kami. Ya, kami belum sampai, baru setengah perjalanan. Kami melewati bagian depan goa yang dihuni banyak kalelawar tidur, sebuah batu pelaminan, dan PLTA yang sudah lama tidak berjalan. Tentu saja para kalelawar tidur karena hari ini masih siang, batunya mirip pelaminan karena sangat besar dan ada beberapa tali pohon beringin yang terjuntai seolah menjadi tirai alam, dan PLTA yang bernilai 200an juta namun hanya menyala sekitar 2 bulan saja karena kesalahan pemborong yang gagal memperhitungkan titik strategis untuk membangun PLTA.
Sayang ketika kamera saya coba untuk men-jepret ternyata tidak kuat mengambil satu gambar pun, baterainya kepalang habis. Kami pun terus berjalan lebih banyak menyusuri batu batuan di sungai pada setengah perjalanan terakhir. Kami bertemu dengan warga Rura di pertengahan jalan yang sepertinya sedang mengutak atik genset. Ternyata setelah saya tanya-tanya mereka sedang mencoba memperbaiki genset yang rusak untuk menangkap ikan. Lho!? Iya menangkap ikan dengan mengalirkan listrik ke bagian sungai yang banyak ikannya. Bagaimana nanti jika yang terkena justru orang lewat? atau telur ikan dan ikan ikan kecil ikut mati? Sebenarnya ini mungkin contoh keserakahan manusia. Asal keingnan terpenuhi, kerusakan alam akan dihitung belakangan oleh si pelaku.
Yah inilah mengapa pendidikan alias bahasa kerennya edukasi diperlukan bahkan di titik terluar negeri kita. Bukan hanya pendidikan intelejensi tetapi juga moral termasuk pendidikan tentang memelihara alam dengan cara mengendalikan hawa nafsu alias kerakusan diri. Saya melihat seorang ibu sedang membawa keranjang sayur di pundaknya. kelihatannya si Ibu sedang duduk memanen sayuran di kebunnya. “Tabe Bu” sapa saya dengan kata tabe yang artinya permisi, “Iye” si Ibu menjawab. Selang sekitar sepuluh menit kemudian, Ibu yang kami tinggalkan tadi dapat menyusul dengan kecapatan jalan ala ninja padahal medan yang kami lalui cukup melelahkan, berupa jalanan miring di pinggir sungai.
Kami hampir sampai berdasarkan keterangan dari anak yang pernah melalui jalanan ini. Tik, tik, tik menetes rintik hujan. Yap, kami harus bergegas sebelum hujan datang membawa banjirnya air di sungai ini. Jalanan terakhir yang kami lalui adalah jalanan menanjak menuju kebun di belakang rumah keluarga angkat Didin, pengajar muda di dusun Rura. Jam menunjukan pukul 15.30 WITA, memang “tidak cukup satu jam” tetapi bukan tidak sampai satu jam melainkan tidak cukup satu jam untuk melakukan perjalanan ini bagi orang awam.

Janganlah kita meremehkan kemampuan anak-anak yang lahir di pegunungan dan besar di sana, karena terbukti memang jika hanya penghuni gunung yang berjalan kaki ke dusun Rura bukan tidak mungkin mereka sampai ke tujuan kurang dari waktu satu jam. Jika orang “baru” yang berjalan kaki, perjalanan menjadi dua setengah jam. Lelah rasanya kaki, maka kami pun beristirahat di rumah keluarga angkat Didin. Sesampai di sana karena memang Didin sudah tahu kami akan datang (tetapi ternyata terlambat datang) murid-murid Didin mengajak kami berenang di bendungan yang sudah mati. Istilah mereka berenang di PLTA, saya pun memilih opsi menolak dan tidur terkapar sejenak. Murid-murid saya? Murid laki-laki langsung berangkat tanpa terlihat kehabisan “baterai”, sedangkan murid perempuan mengunjungi rumah sanak keluarga mereka yang ada di dusun Rura.
Tadinya kami berniat langsung kembali, namun karena baterai alias tenaga saya sendiri sudah habis, kami memutuskan bermalam dan pulang setelah sholat subuh. Udara dingin dusun Rura mulai menyelimuti tubuh kami, setelah menjalankan sholat Ashar saya mengunjungi rumah saudara angkat di Rura. Saya berbincang-bincang di sana lalu kembali ke rumah Didin. Menyenangkan bertemu dengan orang-orang di sini, karena mereka ramah-ramah terhadap para Pengajar Muda. Malam pun kami lalui di dusun Rura. 
Selepas sholat Subuh kami kembali ke dusun Tatibajo. Berangkat sekitar pukul 05.40 WITA dan sampai pukul 06.30 WITA. Perjalanan lancar hanya menghabiskan 50 menit saja, bisa diartikan pula saya sudah jadi anak gunung. Hehe, tentu karena sudah pernah melalui jalan-jalan tersebut saya menjadi lebih cepat berjalan dan lebih gesit melompat dari batu ke batu. Hmm, perjalanan ini mengajari saya tentang betapa teknologi transportasi di kota telah memanjakan penghuninya dan membuat mereka lupa untuk mensyukuri nikmat berupa kemudahan transportasi dan akses jalan tersebut. Hal sederhana yang kita lupa tersebut baru bisa kita sadari jika kita pergi bertualang ke tempat yang masih asri, bagian pinggir negeri yang penghuninya menanti janji pembangunan dari para penguasa.

Categories: Indonesia Mengajar, My Life, Selingan

img20130917_222739

Muhaimin, Mutiara di Atas Gunung

Pada suatu siang yang terik. Baru beberapa minggu setelah saya ditempatkan di dusun Tatibajo. Datang seorang Bapak yang wajahnya sangat ramah. Berkaos kaki dan sendal gunung duduk di sebuah dipan di bawah rumah Pak Imam. Kata anak-anak Bapak itu mencari saya, wajahnya terlihat terpelajar. “Assalamu’alaykum Pak” sapaku, “Wa’alaykumsalam”. “Saya Bapaknya Muhaimin” sang Bapak mengenalkan diri. Saya pun teringat sebuah nama yang pernah diceritakan kepada saya oleh Pengajar Muda sebelum saya, nama seorang anak yang bisa lolos olimpiade sains yang diselenggarakan oleh instansi swasta sampai ke tingkat semi final (Kabupaten).

“Oh iya saya tahu, ada apa Pak jauh-jauh ke sini?” “Kapan itu Mas olimpiade lagi?” tanya Papa Muhaimin. Di sini ada budaya memanggil orang tua dengan nama anak pertamanya, Ayahnya Muhaimin dipanggil Papa Muhaimin, ibunya ya dipanggil Mama Muhaimin. “Februari Pak, tanggal 23” jawab Saya.  “Nah ini anak saya kan kemarin sepertinya hampir lolos ke final. Waktu itu dia masih kelas 2 jadi jika bersaing pun dengan kelas 1, sekarangkan dia sudah naik kelas 3 bersaing dengan yang lebih tua, tetapi sampai sekarang belum ada persiapan.” Tukas Papa Muhaimin. Pada olimpiade ini memang peserta dibagi tiga jenjang, yakni level 1 untuk kelas 1 dan 2, level 2 untuk kelas 3 dan 4, serta level 3 untuk kelas 5 dan 6. Muhaimin dulu berada di level 1 dalam keadaan menguntungkan (kelas 2), sekarang dia naik kelas 3 sehingga harus bersaing dengan kelas 4 yang juga berada di level 2.

“Saya mau belikan majalah untuk anak saya untuk persiapan, jadi bisa tolong dipesankan itu majalahnya?” tanya Beliau. “Bisa Pak, nanti saya tanya teman saya yang memang dapat tugas membantu dalam hal ini” jawab Saya. “Kalau perlu sekalian dibimbing anak saya dari sekarang” kata Papa Muhaimin. Dalam hatiku bilang, wah kalau bimbing sekarang gurunya juga belum siap Pak. “Nanti saja kalau itu kita pikirkan lagi Pak.” Jawabku. “Jadi berapa harga majalahnya? Perlu saya kasih sekarang uangnya?” tanya beliau. Oh iya, saya lupa beritahu bahwa olimpiade ini memang menyajikan materi sains yang diperlombakan dalam bentuk majalah komik. Mereke menjual majalah komik sains tersebut dengan harapan dapat menyajikan materi sains dalam wujud yang bersahabat.
Tentu saja saya bukan agen majalah tersebut, maka pertanyaan Papa Muhaimin pun saya jawab “Kalau itu saya juga belum tahu Pak, tenang saja nanti saya pesankan masalah uangnya belakangan saja”. “Baik terima kasih Mas, nanti bagaimana, majalahnya saya ambil?” tanya beliau lagi. “Tidak perlu Pak, nanti saya antar sekalian silaturahim ke rumah Bapak” jawaban ku reflek karena ingin menghormati sang Bapak yang sudah datang menghampiri rumah keluarga angkat Saya. Kami pun berbicara banyak tentang si Bapak ini. Ternyata beliau adalah seorang guru di dusun Sambabo, desa Sambabo, namun sepertinya belum jadi “pegawai” (sebutan untuk PNS di daerah Sulbar). Setelah perbincangan yang tidak cukup lama akhirnya Papa Muhaimin pamit kembali ke rumahnya.
Saya pun memesan majalah tersebut dengan menemui rekan saya yang memang sedang mengelola pesan memesan majalah olimpiade tersebut. Dunia pun berputar, tak terasa pesanan sudah saya ambil dari rumah keluarga angkat rekan pengajar muda saya yang saya minta tolong kepadanya untuk memesan majalah tersebut. Saya dan Didin (rekan pengajar muda yang masih satu kecamatan dengan saya daerah penempatannya) pun bersiap menuju Desa Kabiraan, Desa tempat tinggal Muhaimin.
Ada beberapa wilayah desa yang dilewati ketika menuju Kabiraan, di jalan Poros merupakan wilayah desa Salutambung, menanjak ke atas sudah wilayah desa Sambabo, dan menanjak lagi sudah wilayah desa Kabiraan. Desa Kabiraan terletak 8 km dari Jalan Raya Poros, jalanan mendaki gunung ini bisa dilalui oleh motor dan juga mobil sekelas Strada. Jalanannya adalah kombinasi dari aspal rontok, kerikil lepas dan tanah. Hawa semakin dingin ketika melawati pintu gerbang dusun Sambabo yang terletak di pinggiran jalanan menanjak menuju desa Kabiraan.  Akhirnya kami pun sampai ke desa Kabiraan, ada tiga rumah yang ingin kami kunjungi di desa ini. Rumah yang pertama adalah rumah Pak Muhaimin, yang kedua adalah rumah Pak Nurdin Kepala sekolah SDN 6 Kabiraan, dan rumah Bu Siti seorang guru SDN 6 Kabiraan.
Rumah pertama yang kami datangi adalah rumah Pak Nurdin. Saya lewat cerita di sini karena bagian menariknya bukan ada di rumah Pak Nurdin. Begitu pula dengan kunjungan ke rumah Bu Siti. Seorang guru yang dianggap oleh PM sebelum saya sudah seperti orang tuanya sendiri, cerita di sini juga saya lewat. Mungkin akan saya ceritakan sosok beliau di tulisan saya yang lain. Akhirnya ke rumah Muhaimin, Rumah Muhaimin bentuknya rumah panggung kayu yang sederhana, di bagian depan ada toko serba ada bertembok semen dan batu yang kelihatannya menjual berbagai keperluan pertanian dan kebutuhan sehari-hari, dari mulai makanan kemasan sampai semen. Tapi bagian tokok tersebut tertutup, saya hanya mengintipnya dari bagian atas toko yang agak terbuka dan bisa terlihat dari bagian rumah panggung kayu yang tersambung secara organik.
Rumahnya tok rumah kayu, beratapkan sebagian seng dan sebagian daun kelapa. Kamar mandinya atau Wcnya merupakan kamar mandi umum di samping rumah dan tidak berpintu, hanya ada tirai saja. Dari kejauhan terlihat memang desa Kabiraan adalah desa yang Islami, terlihat pemandangan perempuan berjilbab lebar di jalanan desa. Kami pun memasuki pintu rumah yang lebih tepat disebut lubang di sebuah rumah kayu yang sederhana. Papa Muhaimin keluar dengan senyum ramahnya menyambut kami, “Assalamu’alaykum Pak!” seruku menyapa sambil menyodorkan tangan untuk berjabat tangan. “Wa’alaykumsalam” Beliau menjawab sembari segera mengambil dua kursi plastik yang ada lengan dan sandarannya untuk saya dan Didin. Tren kursi di gunung terutama untuk beberapa dusun yang penduduknnya berpenghasilan tidak banyak memang kursi plastik, disamping tentu saja karena lebih murah dari kursi berbahan lainnya, ringan juga untuk dibawa ke gunung oleh penjualnya.
“Muhaimin! Muhaimin! Ke sini dulu, ada pak Guru!” kata Papa Muhaimin. Sosok kecil dengan ekspresi setengah senang pun datang. Muhaimin jarang tersenyum, tetapi ada tatapan mata orang jenius dari matanya. Kenapa saya bisa tarik kesimpulan seperti itu? Saya pernah bertemu dengan banyak orang sebelum saya ke tempat ini dan juga di tempat ini. Sebenarnya sebagai seorang pengajar muda saya lebih banyak belajar dibandingkan mengajar. Termasuk belajar membedakan pandangan mata. Pandangan mata yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan sehingga didominasi pada orientasi bertahan hidup di hari ini atau pandangan mata kompleks yang berpikir tentang minimal apa, siapa, dan dari mana jika melihat seseorang ataupun suatu hal baru. Pandangan mata Muhaimin adalah salah satu pandangan mata terkompleks yang pernah saya lihat. Dia memikirkan banyak hal.
Aku pun menyerahkan majalah yang telah dipesan oleh Papa Muhaimin. Adegan yang paling cukup membuatku kaget ketika Muhaimin membaca majalah tersebut seperti anak yang pernah mendapat rekor Muri sebagai penghapal tercepat di sebuah acara talkshow salah satu stasiun televisi swasta nasional. Ya, Muhaimin bukan anak biasa. Terbukti ketika pertemuan pertama pelatihan peserta olimpiade sains, Muhaimin bisa menangkap dengan mudah berbagai pelajaran yang diberikan oleh rekan saya seorang Pengajar Muda di desa Sambabo. Waktu pun berlalu, singkat cerita sebuah babak penyisihan dari olimpiade sains yang diselenggarakan oleh institusi swasta ini pun telah dilalui. Sebulan kemudian hasilnya muncul, dan Muhaimin lolos ke semi final. Kejadian ini membuktikan bahwa di pelosok negeri kita masih tersimpan banyak mutiara yang harus diasah dengan asahan terbaik yang kita punya.
Muhaimin di pertandingan penyisihan

Categories: Indonesia Mengajar