Baik

Baik. Satu kata yang begitu mahal di saat ini. Kenapa? Karena banyak orang yang meniru, tiru kata baik tapi sebenarnya tidak. Cuma mau mengambil “kebaikan” untuk dirinya sendiri dengan meniru baik. Hehe. Merasa? Jangan tersinggung, saya juga merasa kok. Menangis di dalam hati, karena sering merasa jangan-jangan, saya termasuk di antara orang-orang yang sok sok-an baik. 
Tidak ada cerita tentang penempatan di post blog saya kali ini. Cuma tumpahan pemikiran lagi. Entah kenapa saya yakin, memang kita sedang berada di titik yang paling gelap dalam berkembangnya zaman. Tapi tahukah? Titik tergelap justru hadir sebelum titik terang itu perlahan datang. Ketika kebaikan menjadi barang yang mulai dirindukan banyak orang. Ketika orang-orang muak dengan kejahatan, kebohongan, dan kemunafikan yang terjadi pada diri dan sekitarnya.
Perlahan diri kita para generasi muda. Mulai terpanggil, mencari kebenaran yang paling benar. Baik dan benar. Kita mulai rela meninggalkan kekayaan, kekuasaan, dan semua hal yang menggiurkan tetapi butuh kebohongan yang meroda dalam perjalanan hidup kita. Berputar seperti lingkaran setan. Menjerumuskan sekaligus memuakkan!
Yah, memang, berat, serasa banyak musuh, serasa paling miskin, tetapi … baik! Kita menikmati setiap detik ketika kita berbuat baik. Kita menikmati janji janji Tuhan untuk orang-orang yang berbuat baik. Kita bahkan sudah mulai berani mati untuk berbuat baik, semata-mata karena hati kita yakin. Baik adalah sifat dasar atau fitrah dari setiap hati manusia.
Tetapi baik saja tidak cukup di zaman edan ini. Kita harus berserikat, berkompromi, berkerja sama, bertoleransi agar kita tidak sendiri menjadi baik. Karena baik yang sendiri dengan mudah disapu angin buruk. Angin fitnah, angin pembunuhan, angin penipuan, angin sogokan, dan angin angin semu lainnya. kenapa saya bilang angin? Karena itu semua sementara dan pasti nikmatnya sebentar saja. Sekedar lewat. Tapi membuat kita sakit. Kotor hatinya dan terlena serta lupa menjadi baik.
Baik. Saya rindu, dan selalu saya dan Anda berdoa kepadaNya semoga saya selalu baik atau menjadi baik. Amin.

Categories: Celoteh, Nasihat, Tausiyah

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>