100_0723

Balada Kepergian Para Perantau

Setengah tertidur pada pukul 01:00 WIB, para Pengajar Muda memaksa kelopak mata mereka terbuka agar mereka dapat membawa barang-barang mereka dari kamar hotel ke mobil pengangkut barang. Sinar bulan menyinari tas carrier dan koper yang mereka isi sepadat mungkin dengan pakaian dan peralatan untuk bekal kehidupan selama di penempatan 14 bulan ke depan. Sekitar jam 02:00 WIB kami, para pengajar muda berangkat dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Fatmawati menuju Bandara Soekarno-Hatta. Bus yang akan mengantarkan kami telah menunggu sejak malam sebelumnya. Deru mesin kendaraan besar ini menjadi saksi bagi kami ketika meninggalkan tanah Jakarta menuju daerah penempatan.
Selama perjalanan sekitar 2 jam kawan-kawan pengajar muda akhirnya kalah oleh gravitasi lelah dan tertidur di dalam bus. Mereka begadang untuk memaksimalkan persiapan, menyalin data-data video, lagu, dan bahan ajar untuk bekal satu tahun dua bulan ke depan sehingga wajar saja mereka tertidur. Pada dasarnya saya sempat tidur sekitar satu jam lebih, namun tak cukup bagi mata saya yang akhrinya juga terlelap saat perjalanan menuju pangkalan burung besi. Tak lama setelah itu, cahaya lampu melewati retina, mengantarkan diri dari alam bawah sadar ke dunia nyata. Terlihat kesibukan orang-orang di bandara dari jendela bus. Kami pun turun dan dengan segera menurunkan barang. Tanpa banyak tanya setiap tim penempatan langsung mendelegasikan dua atau tiga anggotanya untuk mengambil trolly pengangkut barang.
Kami pun mengangakat barang yang akan dimasukan ke bagasi pesawat ke atas trolly sebagian barang yang kami niatkan dibawa di kabin pesawat kami titipkan kepada orang tua salah seorang Pengajar Muda (PM) dan kami, delapan orang PM penempatan Kabupaten Majene mulai menyambung antrian bagasi pesawat untuk menimbang barang bawaan kami. Selepas menimbang barang barulah kami kembali ke depan terminal A1 untuk melaksanakan upacara pelepasan. Pada saat upacara pelepasan Pak Anies memberikan wejangan terakhir sebelum kami berangkat. Satu persatu tim PM pun boarding ke pesawat masing-masing. Kami tim Majene mendapatkan giliran boarding sekitar jam 5:10 WIB, 30 menit setelah upacara dimulai. Dua puluh menit kemudian upacara pun selesai, kami para PM bersalam-salaman dan melepas saudara-saudara seperjuangan dengan peluk erat ataupun salam sahabat dengan sambil memberikan pesan terakhir sebelum keberangkatan.
Waktu boarding pun tiba, kami mengambil barang di atas trolly yang tadi sudah dijaga oleh orang tua kawan kami dan disambung jaga oleh panitia. Kami pun berlari karena waktu menunjukan tepat 5:10 WIB. Banyak perbekalan “tiba-tiba”yang diberikan oleh keluarga kawan-kawan saya, salah satunya bantal untuk PM yang bernama Mega Tala dari saudaranya dan sekantung minuman ringan untuk PM yang bernama Yustika. Minuman ringan ini dianggap memberatkan bagasi dan beliau sengaja tinggalkan di trolly, tetapi tiba-tiba saja seorang pegawai kerja praktek kantor Indonesia Mengajar mengejar kami sembari teriak “Mbak! Mbak! Barangnya ada yang ketinggalan!”, barang itu adalah minuman yang sengaja kami tinggal. Akhirnya minuman itu pun kami bawa.
Kami pun lekas ke boarding room, sesaat setelah sampai ternyata maskapai penerbangan mengumumkan bahwa pesawat yang kami tumpangi dipersilahkan untuk diisi segera. Kami pun setengah berlari langsung mengantri ke sebuah pintu keluar menuju lapangan penerbangan dan menaiki pesawat. Kami pun mencari kursi masing-masing, meletakan barang bawaan di lemari atas kabin pesawat lalu duduk manis menunggu pesawat take off.
Terbesit perasaan yang aneh bin ajaib, kami akhirnya berangkat ke penempatan, menuju petualangan baru untuk berbagi ilmu kami yang tidak banyak dan belajar banyak dari penduduk setempat kelak. Resah, khawatir, senang, dan penasaran bersatu menjadi satu emosi yang tak tergambarkan. Detak jantung sesekali menjadi cepat karena memikirkan hal ini. Dua puluh menit setelah kami duduk di kursi penumpang, pilot pun mengumumkan bahwa pesawat akan take off. Kami pun terbang bersama semangat optimis kami melanjutkan perjuangan para PM angkatan sebelumnya di penempatan untuk melunasi janji kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saudara sepenempatan (PM Tim Majene): Ibu Ria, Sarjana Farmasi ITB dan Ibu Tika, penyiar terkenal di Jogja
Saudara sepenempatan (PM Tim Majene): Pak Nurul, penulis asal Jogja, Bu Tala Psikolog dari Undip, Pak Vino anak IT dari Malaysia , Pak Didin tukang touring dari UNS, Bu Lukvi Pecinta Alam dari UGM

Sabtu, 3 November 2012
Pengajar Muda V
Penempatan Dusun Tatibajo
Muhamad Fajar

Categories: Indonesia Mengajar, My Life

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>