Cerdas-Cermat-comp

Bukan Cerdas Cermat

Suasana Pertandingan Cerdas Cermat

Ketika bermalam di rumah Pak Juki, saya dapat kabar dari anak-anak sekolah yang ada di Masjid Ainul Yaqin bahwa esok hari sebuah acara cerdas cermat akan dilaksanakan. Pelaksananya adalah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari salah satu Universitas di Propinsi Sulawesi Barat. Sebenarnya mereka sudah mengabarkan sekitar satu bulan lalu tentang lomba ini. Wilayah kerja mereka memang hanya Desa Salutambung dan di Desa Salutambung hanya ada dua SD yakni SDN 27 Tatibajo dan SDN 10 Salutambung.

Kami para guru SDN 27 Tatibajo dan guru SDN 10 Salutambung diminta oleh panitia membuat soal untuk pertandingan cerdas cermat. Sayang pada akhirnya soal dari SD kami (SDN 27 Tatibajo) banyak yang tidak diambil karena ternyata banyak guru yang tidak mencantumkan kunci jawaban. Semula saya bingung, kenapa soal dari SDN 10 Salutambung diberikan panitia kepada kami (SDN 27 Tatibajo). Ternyata soal tersebut ditukarkan ke kedua SD. Kepala sekolah saya pun meminta saya untuk melatih tim cerdas cermat yang akan bertanding dengan bermodal soal tersebut.

Saya pun melatih mereka. Salah satu cara saya melatih mereka pada pelajaran Matematika, saya membuat soal yang mirip dengan yang ada di soal edaran dan memberikan soal tersebut dengan sajian cerdas cermat juga. Sebenarnya dengan cara ini pun saya merasa jadi orang yang curang, karena sudah tahu model soalnya seperti apa. Akhirnya karena lelah, pada pelajaran lain, soal saya sajikan dengan cerdas cermat pula tanpa perubahan apapun. Pada saat itu saya merasa telah menjadi orang yang curang karena sudah tahu soal yang akan dilombakan dan malah saya menyimulasikannya duluan di depan murid saya. Saya merasa sudah mengkhianati komitmen saya sendiri dalam hal melaksanakan apa pun dalam hidup saya dengan nilai kejujuran.

Sebelum pertandingan berlangsung, ada isu bahwa guru di SDN 10 meminta soal dan jawabannya dihafalkan oleh para siswa yang akan berlomba. Saya tidak mengindahkan isu ini, saya pikir kalaupun menang dengan cara seperti itu tidak seperti lomba cerdas cermat, tetapi menang lomba menghafal. Kalau memang tujuannya menguji kecerdasan siswa, bukankah cara ini tidak tepat? Ya saya pikir saya juga berada di jalan yang tidak lurus juga, karena sudah tahu soal yang akan keluar juga. Hanya saja saya tidak serta merta meminta siswa saya yang akan berlomba untuk menghafalnya, melainkan melatih mereka menjawab soal tersebut dengan sajian ala cerdas cermat juga.

Waktu pun berlalu, salah satu siswa yang menjenguk Pak Juki adalah peserta lomba Cerdas Cermat. Namanya Aidin, saya meminta Aidin untuk tidak lagi masuk ke dusun dan mencari pinjaman seragam saja di pinggir. Salah satu siswa peserta lain memang tinggal di pinggir, namanya Nurjayanti. Saya langsung meminta salah rombongan kunjungan jenguk untuk mengirim utusan mengabari Nurjayanti tentang hal ini. Akhirnya sisa peserta yang masih ada di dusun akan saya dan Pak Amrin (salah seorang guru di sekolah) jemput esok pagi hari.

Dipagi hari aku pun langsung mencari pinjaman seragam untuk Aidin. Aku mencari pinjaman dari sanak keluarganya Bu Juki yang mungkin punya baju seragam yang sedang tidak dipakai dan juga mencarinya di rumah kepala sekolah. Ibu istri kepala sekolah pun turut mencarikan pinjaman seragam dari rumah sanak keluarganya. Kebetulan untuk seragam putih sudah didapat dari salah satu anak Pak Juki. Bu Kepala Sekolah sedang mencarikan pinjaman celana seragam merah. Dua celana pun terkumpul di rumah kepala sekolah, namun ternyata celana yang mau dipinjamkan terlalu kecil untuk Aidin. Begitu pula milik anak Pak Juki, celananya kekecilan. Sampai akhirnya Bu Juki menemukan celana milik keponakannya yang cocok untuk Aidin.

Semua peserta pun telah terkumpul di rumah Pak Juki dan kami siap berangkat ke lokasi perlombanan SDN 10 Salutambung. Sesampai di sana panitia telah menunggu. Anak-anak pun memasuki kelas tempat perlombaan. Lomba belum dimulai karena belum semua tokoh yang ditunggu datang di lokasi. Akhirnya pun saya memutuskan untuk pergi sejenak ke Masjid terdekat untuk sholat dhuha. Selesai sholat dhuha saya kembali ke tempat perlombaan dan ternyata malah saya yang ditunggu panitia sehingga lomba belum dimulai. Hehe saya jadi merasa tidak enak.

Setelah itu seorang pembawa acara (MC) pun membacakan tata tertib cerdas cermat dan pengundian amplop soal pun dimulai. SDN 27 Tatibajo terdiri dari dua tim, anggota tim yang pertama antara lain Arif siswa kelas V, Aidin siswa kelas VI, dan Nurjayanti siswa kelas IV. Anggota tim yang kedua antara lain, Perni kelas IV, Ical kelas VI, dan Sugiono kelas V. Cerdas cermat terdiri dari dua babak, babak yang pertama adalah babak pertanyaan bergilir, sedangkan yang kedua adalah babak pertanyaan rebutan. “Babak pertanyaan bergilir akan dimulai, amplop nomor satu akan saya dibuka buka. Amplop masih dalam keadaan tersegel” ucap MC kepada seluruh peserta dan penonton sambil menunjukan keadaan amplop yang masih utuh. Seputar soal yang dibuat kedua belak sekolah, sudah jauh hari panitia menyampaikan kepada kepala sekolah bahwa soal dari SDN 27 Tatibajo tidak digunakan oleh panitia karena banyak guru yang tidak mencantumkan kunci jawaban.

Lalu bergulirlah pertanyaan tiap pertanyaan kepada tim A dari SDN 10 Salutambung. Saya pun terkaget karena ternyata soal yang dibacakan sama persis dengan soal yang diberikan ke setiap sekolah. Saya pun berbisik pada MC bertanya “Apakah dari panitia tidak membuatkan soal untuk lomba ini?”, lalu panitia menggelengkan kepala. Hal yang lebih membuat saya kaget adalah jawaban dari tim A hampir tidak ada yang salah. Lalu amplop berikutnya pun dibuka dan dibacakan untuk tim B dari SDN 27 Tatibajo. Sebenarnya sewaktu saya melatih murid-murid saya memang sudah ada beberapa nomor soal yang bisa dijawab oleh mereka. Biasanya seputar agama Islam seperti nama malaikat yang bertugas membagikan rejeki ataupun nama kitab-kitab Allah. Pada lomba pun yang bisa mereka jawab adalah soal-soal tersebut, sedangkan soal-soal yang lain sepertinya mereka lupa jawabannya apa.

Ada beberapa jawaban lucu yang terceletuk dari murid saya. Salah satunya jawaban Ical. Ketika ditanya “Apakah kepanjangan dari lembaga yang bernama KPK?”, murid saya terdiam sejenak, berpikir menerawang lalu menjawab “Kelipatan Persekutuan Terkecil!”. Dalam hati saya tertawa, sekaligus sedih, tertawa karena jawaban murid saya dan sedih karena dalam sudut pandang saya pertanyaan seperti ini belum saatnya anak-anak seusia mereka mengerti. Hal-hal seperti KPK bagi saya terlalu rumit untuk dijelaskan kepada anak-anak seusia mereka. Pertanyaan pun dilempar kepada tim C dan mereka bisa menjawabnya, saya pun tidak tahu apakah tim C hanya hafal kepanjangannya atau juga paham apa itu KPK.

Jawaban menyelekit lainnya adalah ketika Aidin murid SDN 27 Tatibajo di tim D menjawab pertanyaan “Apakah sebutan untuk tempat menjaga pada sistem keamanan keliling?”, dia menjawab “Pos Ronda”. Sebenarnya yang diharapkan panitia adalah jawaban “Pos Kamling”, tetapi menurut saya jawaban dia memiliki arti yang sama. Panitia pun membenarkan. Kenapa ini menjadi pertanyaan menyelekit bagi saya adalah karena kabupaten Majene adalah kabupaten paling aman yang pernah saya tinggali, wajar jika di sini jarang ada Pos Kamling, sehingga benda tersebut menjadi suatu hal yang abstrak bagi murid-murid di sini. Beruntung Aidin pernah tinggal di Sangata, Kalimantan, mungkin dia tahu dari tempat tinggal ia di sana.

Pada giliran selanjutnya peserta tim D dari SDN 10 bisa menjawab semua pertanyaan, bahkan ketika baru dua kata dari kalimat tanya dibacakan MC, mereka sudah bisa jawab. Saya tahu mereka pasti menghafal, karena jika tidak, mana mungkin pertanyaan-pertanyaan sulit bisa dijawab sebegitu mudahnya. Kami memang kalah telak, beda skor mencapai lebih dari 1500 dengan satu pertanyaan bernilai 100, tetapi saya pribadi bersyukur karena akhirnya saya tidak perlu menang pada kompetisi menghafal jawaban seperti ini. MC memang berkata setiap kali membuka amplop soal bahwa amplop tersegel, tetapi sepertinya kawan-kawan panitia lupa bahwa cerdas cermat itu untuk menguji wawasan siswa, bukan untuk menguji kemampuan siswa menghafal jawaban. Jangan sampai nilai-nilai negatif mencederai pendidikan anak-anak bangsa. Selalu hati-hati terhadap apa yang kita ajarkan kepada generasi masa depan Indonesia.

Categories: Indonesia Mengajar, My Life

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>