b203-jersey-25281-2529

Hampir

Sumber gambar : flickr.com dibuat oleh scottythejock

Kamis, 1 September 2011. Kami sekeluarga berangkat jam 20.00 menuju Majalengka dengan dua mobil beriringan melalui jalur Cikamurang. Sampai di Subang, ada kejadian yang sulit untuk dilupakan. Pada tengah malam, salah satu mobil yang kami (sekeluarga tumpangi) mengalami hal yang luar biasa. Pada saat itu sebenarnya semua penumpang sudah tidur kecuali supir. Tetapi tiba-tiba saya yang juga sedang tidur punya feeling luar biasa gak enak.

Akhirnya mata pun terbuka lebar. Pada tikungan yang tajam, mobil Peugeot 406 melesat dengan kecepatan entah berapa (mungkin sekitar 50an Km/ Jam), berbelok ke kanan. Saya melihat cahaya datang dari arah berlawanan. Melalui kaca depan mobil saya yang duduk di belakang melihat dengan jelas dan berasa slow motion mobil keluar jalan aspal menuju arah kiri jalan. Saya cuma bisa teriak “Awas Mas Re!” (Mas Reza, supir sekaligus kakak ipar). Mobil pun memilih tempat jatuhnya, dari mulai tembok beton, rumah warga sampai akhirnya menuju pagar tanaman. Ya, sampai di sini hanya bisa pasrah. Mobil pun sepertinya melompat. Suara “ciiiit … gusrak geduBRAK!” terdengar sangat mengerikan malam itu.

Pasir dan debu mengepul di sekeliling mobil, turun perlahan dan mengungkap tempat jatuhnya mobil. Sebuah pekarangan. Dengan hati yang terbengong-bengong bahwa diri ini masih hidup akhirnya diperintahkan pak supir keluar untuk membantu mengeluarkan mobil dari tempat jatuhnya. Ketika keluar perlahan sekeliling mobil pun ramai karena warga lokal datang. Termasuk pemilik rumah yang terbangun karena suara benturan mobil. Atas kehendak-Nya kami para penghuni mobil keluar dengan selamat tanpa ada gores sedikit pun. Justru yang khawatir ada apa-apa adalah rombongan mobil yang satu lagi (mobil kakak saya yang lainnya yang sudah melaju terlebih dahulu). Penghuni rumah pun khawatir akan penumpang mobil yang nyusruk ke pekarangannya.

Dari kejauhan datang seorang oknum petugas berwajib salah satu instansi pengatur jalan tapi entah kenapa datangnya dengan jalan santai. Bukan menanyakan apakah ada korban atau tidak, malah mempermasalahkan tentang pekarangan. “Ini gimana nih … Mas kan merusak pekarangan orang, harus diselesain dulu lah urusan sama yang punya” kurang lebih pernyataannya seperti itu. Padahal pemilik pekarangan saja mengerti yang barusan itu kecelakaan jadi ya ga usah terlalu dipikirkan. Ini orang dateng-dateng malah bertanya seperti itu.

Absurd.

Setelah kakak ipar saya ditanya-tanya, ternyata beliau kaget karena ada gerombolan motor datang dari arah berlawanan dan salah satunya tidak menyalakan lampu. Mantep banget dah tengah malam bawa motor gak pake lampu, nyawanya banyak euy.

Kejadian ini mengingatkan kembali kepada saya bahwa kematian bisa datang kapan saja tanpa diduga. Sesaat sebelum mobil melompat dari jalanan, saya sudah berpasrah saja, dalam hati “sepertinya ini sudah akhir ya?”. Namun, ternyata perjalanan kehidupan masih berlanjut. Masih harus menyusun rencana kehidupan ke depan dan selalu mencari kesempatan merubah dunia menjadi lebih baik.

Saya akhiri cerita ini dengan Alhamdulillah
~ gak pake sesuatu, apalagi banget :D

Categories: Artikel, My Life

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>