4.1.1

Krisis Teknologi

Teknologi adalah sebuah anugrah dari Allah SWT bagi umat manusia sebagai makhluk yang berakal dan mampu belajar serta membangun peradaban. Namun apa yang terjadi! Manusia kini mulai menghancurkan dirinya perlahan – lahan dengan teknologi yang mereka ciptakan.

Teknologi diciptakan untuk mempermudah peran manusia sebagai (khalifah) pemimpin dan pengelola di muka bumi, karena dengan teknologi yang kita ciptakan kita mampu memecahkan masalah yang amat rumit sekalipun. Seiring dengan waktu, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu cepat. Dahulu, manusia berjalan kaki untuk mencapai tempat yang ditujunya, lalu manusia berpikir untuk menunggangi kuda, membuat kereta kuda, membuat kereta (seperti kereta kuda) dengan mesin uap, kereta bertenaga batu bara, dan pada akhirnya berhasil membuat sebuah mesin berbahan bakar minyak. Sayangnya saat ini, kebanyakan taknologi yang diciptakan manusia, menjadi lebih banyak mudharatnya karena dipisahkan dari aspek serta nilai yang telah diatur oleh Islam. Akibatnya, kejadian seperti lumpur lapindo yang merupakan kecelakaan nasional pun terjadi.

Teknologi tidak hanya berkembang dalam bidang transportasi saja, begitu juga dengan media, mulai dari koran, radio, televisi, serta pada akhirnya internet, atau jaringan internasional, terjadi perkembangan yang amat cepat. Multimedia seperti internet amat mempermudah manusia dalam memperoleh informasi terkini mengenai keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia yang mereka tempati. Dulu amat sulit sekali untuk mempublikasi karya-karya kita, baik itu tulisan, lagu, film, tetapi sekarang, jika punya tulisan menarik, anda cukup membuat blog dan dengan menginformasikan alamat blog anda ke beberapa orang teman saja, maka jika satu orang membaca dan merasa artikel anda bagus, efek domino akan tercipta, ratusan orang lainnya akan menyusul membaca artikel anda.

Percayalah bahwa krisis multimedia kini sedang terjadi di masyarakat kita. Krisis terparah yang terjadi bukan masalah pengetahuan akan multimedia, krisis terburuk yang terjadi bukan pula masalah fasilitas yang minim di Indonesia. Tapi moral bangsa kita yang mulai rusak karena pendidikan dan pendekatan akan multimedia dengan cara yang salah.

Orang tua tidak peduli terhadap ketertarikan anaknya terhadap internet, mereka melepas anak – anak mereka dalam exploring di dunia internet di warnet tanpa kontrol dari orang tua, padahal orang tua seharusnya (apalagi jika mampu) memberikan fasilitas di rumah, meletakan komputer di ruang tengah, agar kegiatan browsing terkontrol. Cara ini pun belum ampuh, cara yang benar – benar ampuh adalah memberikan pendidikan tentang Islam sejak dini. Kenapa hal ini dibutuhkan? Yang menjadi permasalahan utama bukanlah menjaga anak agar tidak sembarangan dalam browsing, melainkan memberikan anak pendidikan Islam sejak dini dan mengajarkan cara mengaplikasiakn nilai – nilai Islam dalam kehidupan termasuk dalam surfing di dunia maya. Jika dikaitkan dengan aturan – aturan Islam, aturan Islam yang berlaku di dunia nyata berlaku pula di dunia maya. Jangankan pornografi hal yang mendekati! Ingat! Mendekati Zina itu hukumnya Haram. Tegaskan nilai – nilai tersebut terhadap anak – anak dari sejak dini. Begitu juga dengan tata krama berbicara atau akhlak dalam berbicara, layaknya menjaga perkataan di dunia nyata, umat muslim di dunia maya juga harus menjaga kata – kata mereka. Jika hal – hal seperti ini bisa diterapkan, yakni tidak memisahkan nilai – nilai Islam dalam menggunakan dan mengembangakan teknologi, maka Insya Allah krisis akhlak dalam teknologi dan multimedia tidak akan ada.

Sampai saat ini hal yang saya jabarkan di paragraf sebelumnya belum diterapkan oleh masyarakat muslim Indonesia, maka jangan heran jika ada umat Islam Indonesia yang memprotes keberadaan UU ITE khusunya bagian yang mengatur pornografi! Parah! Naudzubilamindzalik.

Whew akhir kata . . . wahai orang Islam yang sedang membaca artikel ini lalu tidak setuju dengan kata – kata saya di atas, sadarkah jati diri anda sebagai umat Islam telah hilang? Sadar tidak? Kalau tidak juga tidak apa – apa, toh saya hanya mencoba mengingatkan diri sendiri dan orang lain kok.

– Muhamad Fajar -

Categories: Artikel

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>