Ical-makan-makan

Makan – Makan Akhir Semester

Pembagian buku rapor semester 1 tahun ajaran 2012/2013 telah selesai dilaksanakan. Pembagian rapor di dusun sedikit berbeda dengan pembagian rapor di kota. Kalau di kota yang menerima adalah orang tua, maka kalau di dusun yang menerima adalah siswa itu sendiri.  Tentu Anda akan bertanya kenapa hal itu terjadi. Jawabannya sederhana, di dusun saya mayoritas orang tua tidak  lancar membaca apalagi menulis. Jadi percuma juga jika orang tuanya yang menerima rapor mereka.

Selepas menerima rapor, siswa dan orang tua mereka mengajak kami berjalan ke sungai yang dekat dengan “perusahaan”. “Perusahaan” adalah nama untuk sebuah daerah yang sempat digarap sebuah perusahaan kontraktor yang pernah berjanji kepada warga dusun, apabila mereka diperbolehkan bekerja mengeruk batu-batu di daerah perbukitan dekat dusun, mereka akan membangun jalan ke dusun. Pada kenyataannya perusahaan tersebut tidak pernah menepati janjinya dan sempat diamuk masyarakat dusun. Akhirnya lahan kerja mereka menjadi sebuah lapangan batu-batuan berpasir diantara dua bukit dan disebut sebagai “perusahaan”.

Saya cukup heran tentang satu hal. Guru honorer di SD saya yang bernama Bu Umi biasanya untuk acara-acara begini sangat enjoy seketika menghilang setelah kami selesai makan siang ala piknik bersama para orang tua. Ternyata memang ada suatu hal, setelah makan, murid-murid berbondong-bondong mengambil air ke sungai dengan segala perangkat penampung air yang mereka punya untuk diguyurkan ke guru-guru mereka. Terlambat, hal-hal seperti ini memang tidak pernah diceritakan ke saya. Padahal baju saya sudah rapih ala orang mau berangkat kerja, tetapi sepertinya harus menjadi korban pelepasan penat anak-anak yang baru terima rapor.

Yah saya pun menyerah pada nasib, menitipkan kamera, kemeja, dan dompet sehingga siap untuk diguyur.  “Byur…”, senang sekali mereka karena berhasil mengguyur saya, terpaksa saya ikut nyebur juga ke sungai menyerang balik mereka dengan guyuran bermodal tempat makan rampasan dari murid saya. Enak saja mereka mengguyur gurunya tanpa balas diguyur.  Hehe. Semua guru terlibat, kecuali ibu-ibu guru, sudah pada menghilang bersama angin yang berhembus, alias kabur.

Kami pun berjalan pulang menyusuri sungai sambil terkadang menyebrangi sungai. Anak-anak pun meneriakan semacam yel yang cukup menggelitik saya. “Siapa suka diajari sama Pak Fajar?” teriak salah satu murid kelas VI, Ical. Semua murid lain yang sedang berjalan pulang bersama pun menjawab “Saya!!”. Mereka memang pintar sekali merayu guru mereka di saat-saat seperti ini, banyaknya yel-yel sejenis yang mereka lontarkan membuat saya serasa Fir’aun kecil. Hehe.


Ical yang sedang berteriak Yel ala Fir’aun :D

Akhirnya basah kuyup.

Pak Amrin (wali kelas 5) dan murid-murid

Pak Amrin (wali kelas 5), Pak Juki (wali kelas 6) dan murid-murid bersorak sorai


Categories: Indonesia Mengajar, My Life

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>