249840249_c636b63d97_b

Ramadhan, Sekolah Kehidupan

sumber gambar: http://www.flickr.com/
Alhamdulillah, Akhirnya kita telah sampai di bulan Ramadhan. Banyak sekali respon manusia terhadap bulan ini. Ada yang menyambut dengan luar biasa gembira, ada yang biasa saja, ada yang malah kecewa. Bagaimana dengan Anda?
Ramadhan adalah sekolah untuk menempa manusia. Manusia yang awalnya takluk oleh nafsunya sendiri, menjadi manusia yang menaklukan nafsunya. Rasulullah bersabda,

“Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” [HR. Muslim].

Makna dari setan yang dibelenggu pun ada bermacam-macam pendapat ulama, salah satunya makna setan yang dibelenggu secara hakiki (sebenarnya), ini artinya manusia tidak lagi menghadapi godaan dari setan dari jenis jin, melainkan godaan setan dari jenis manusia. Jika kita mau berpikir sedikit maka secara implisit kita melawan sifat-sifat setan yang sudah tertanam dalam diri kita (yang notabene manusia). Sifat-sifat setan yang sudah terintegrasi dengan hawa nafsu kita seringkali masih saja menggoda kita. Behavior atau kelakuan atau akhlak keseharian kita di bulan Ramadhan adalah murni sifat kita tanpa gangguan setan, itulah mengapa ibadah kita bisa naik drastis selama bulan ini.
Ada Ulama yang berpendapat bahwa kata “belenggu” merupakan kata kiasan. Sesuai dengan firman Allah,

“Sesungguhnya hambaku tidak ada kekuasaan bagimu (iblis) atas mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” [QS. Al-Hijr:43].

Dan pada ayat lain,

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah swt, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” [QS. Al-A’raf:201].

Orang-orang beriman diberikan kewaspadaan lebih dari biasanya di bulan Ramadhan dalam mendeteksi godaan setan sehingga tidak mudah tergoda dan setan pun “terbelenggu” karena tidak bisa dengan leluasa menggoda manusia. Lalu bagaimanakah performance diri kita dalam berpuasa di saat setan tak sempat lagi untuk menggoda? Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda,

“Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja.” [HR. bukhari].

Puasa di bulan Ramadhan adalah amalan yang kita lakukan khusus untuk Sang Khalik. Maka amatlah penting untuk selalu berusaha menyempurnakan puasa kita. Puasa sendiri memiliki berbagai tingkat, tingkat pertama ialah puasa sebatas menahan lapar dan haus. Tingkatan kedua adalah menahan lapar dan haus serta menjaga seluruh anggota badan kita dari perbuatan yang bisa merusak puasa. Lisan yang terjaga, mata yang terkendali, dan pendengaran yang hanya mendengarkan hal yang perlu.
Tingkatan ketiga atau tingkatan terbaik dalam berpuasa adalah ketika semua hal di tingkat sebelumnya telah terlaksana ditambah dengan puasa hati. Puasa hati, menjaga hati dari niat buruk, prasangka buruk, pemikiran yang buruk dan hal-hal buruk lainnya yang bisa merusak puasa kita. Sampai di tingkat manakah kita telah berpuasa? mudah-mudahan Allah SWT akan terus menyekolahkan kita pada bulan Ramadhan hingga kita telah bisa menjalankan puasa dengan tingkat terbaik. Dan mudah-mudahan puasa kita tahun ini bernilai pahala di sisi-Nya. Amin

Sumber rujukan:

  • http://www.pesantrenvirtual.com/index.php/seputar-ramadhan/16-tanya-jawab/549-bagaimana-setan-dibelenggu-dalam-ramadhan
  • Ceramah-ceramah ba’da shalat tarawih@mesjid Al-Muhajirin, Depok, Jawa Barat.

Categories: Islam, Nasihat, Ramadhan, Tausiyah

3 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>