Sekedar Hidup atau Mengukir Cerita

Hidup cuma sekali. Itu yang ada di kepala setiap orang di dunia. Semua orang ingin hidupnya diisi oleh cerita bahagia. Namun kehidupan itu tidak lurus-lurus saja. Ada saja hal yang menimpa berupa ujian syukur dan ujian sabar. Dua jenis itu saja tetapi berbeda bentuk ujiannya untuk setiap orang. Kehidupan saya beberapa bulan dan tahun terakhir begitu berwarna dan berputar begitu cepat. Beberapa waktu di atas dan beberapa waktu di bawah, jatuh dan bangkit, jatuh lagi dan bangkit lagi.

Saya akui saya seorang yang idealis. Idealisme itu yang kadang juga merepotkan saya karena jalan seorang idealis sedikit lebih rumit dibandingkan hidup pragmatis. Semua petualangan bermula ketika saya ingin sekali mencicipi kehidupan di rantau sebagaimana kawan-kawan kuliah saya telah merasakannya sebagai mahasiswa yang datang dari daerah. Namun saya tidak mau sembarang mencicipi begitu saja. Keinginan itu datang ketika pendaftaran Pengajar Muda V dibuka dan saya meliriknya sebagai peluang untuk merantau dengan manfaat.

Singkat cerita saya pun lolos seleksi berlapis Gerakan Indonesia Mengajar dan resmi menjadi Pengajar Muda angkatan V. Kami para pengajar muda disebut-sebut sebagai sarjana terbaik bangsa yang turun tangan ke daerah mencicipi kehidupan akar rumput di daerah. Intrakulikuler, Ekstrakulikuler, Pembelajaran Masyarakat, dan Advokasi Pendidikan menjadi PR kami para pengajar muda yang sedang mengabdi di daerah selama satu tahun dua bulan. Yah ternyata saya beberapa kali sakit, pertama terkena hepatitis A, lalu kedua masih kelanjutannya yakni asupan gizi yang tidak maksimal (pertama kali seumur hidup kurang gizi). Agak aneh rasanya, ingin berkontribusi di sana tapi malah merepotkan juga.

Dari awal saya sudah meniatkan pengabdian saya sebagai usaha mencari ridho Allah. Saya ikhlaskan setiap kejadian yang sudah terjadi sambil mengambil pelajaran di dalamnya. Banyak tawa dan tangis dalam kisah saya. Banyak kenangan yang terukir mendalam di waktu yang singkat. Saya tidak lagi penasaran tentang hidup di perantauan. Saya pun jadi tahu apa yang harus saya siapkan jika saya ingin merantau. Yakni kedewasaan dalam mengurus diri, memprioritaskan kesehatan sebagai hal nomor satu yang harus dijaga, beristirahat yang cukup, memenuhi gizi yang cukup, dan jangan terlalu dibawa susah dalam menghadapi masalah apapun sehingga pikiran yang ceria dan optimis tentu akan menjadikan tubuh yang lebih kuat.

Memang tidak sesuai ekspektasi saya, tapi Saya yakin inilah yang terbaik, ujian datang karena saya diminta naik tingkat. Banyak juga hal menyenangkan yang saya jalani sebagai pengajar muda. Persahabatan dengan para Penyala Makassar dan Persaudaraan dengan para pengajar muda sepenempatan, kenangan dengan para penduduk lokal, tawa bersama mereka semua tentu juga menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Banyak kisah yang ingin saya tulis. Semoga saya sempat menuliskannya di blog saya yang baru (terurus) ini. Salam senyum, optimis selalu :)

Categories: Kehidupan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>