24087621_ee9ff0206c

Tenggelam atau Menyelam?

sumber gambar: http://www.flickr.com/
Salim A. Fillah dalam bukunya “Jalan Cinta Para Pejuang” menganalogikan hidup ini seperti orang yang berada di lautan. Tulisan saya di postingan ini mencoba me-reka ulang analogi tersebut, tapi tidak persis seperti yang ada di buku beliau, sedikit dirubah, dikurangi, ditambahkan, dibumbui sesuai kebutuhan, silahkan disimak.

Seorang penyelam dengan peralatan selam lengkap yang juga berkualitas nomor 1, berada di bawah permukaan laut. Orang tersebut melihat seorang penyelam lain yang hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong ketika menyelam, padahal saat itu mereka berada pada kedalaman 10 meter di bawah permukaan laut. Lalu dalam pikirnya “Wah hebat sekali ada orang yang menyelam tanpa menggunakan peralatan lengkap seperti saya”.
Sesaat kemudian, perhatian penyelam mau tak mau tertuju pada keindahan pesona fauna di lautan. Ikan-ikan dengan warna-warni yang indah berkeliaran ke sana ke mari. Ikan-ikan tersebut berenang layaknya lukisan hidup di atas kanvas biru. Setelah beberapa menit terpukau dengan pesona lautan di kedalaman 10 meter, sang penyelam pun kembali turun lebih dalam menuju ke kedalaman 20 meter.
Sang penyelam lagi-lagi terkejut, karena di kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut ia kembali bertemu dengan penyelam kaos oblong. “Subhanallah, ternyata orang itu sudah sampai di sini” serunya dalam hati. Lagi-lagi perhatian sang penyelam teralihkan ke suasana lautan yang semakin indah, ikan-ikan kecil bergerombol untuk berenang, membentuk formasi tanpa bertabrakan. Juga ubur-ubur yang berenang seperti balon ulang tahun yang ditempeli dengan tali kembang kempis terbang menjauhi sang Penyelam.
Perjalanan pun dilanjutkan, sang penyelam menyelam lebih dalam lagi, kali ini kedalaman 30 meter. Suasana lautan gelap dan mulai terlihat ikan-ikan yang menyala-nyala, juga ditemukan banyak tumbuhan lautan, coral, dan tanaman-tanaman lautan lainnya yang pesonanya tak kalah indah dengan ikan-ikan disekitarnya. Sang penyelam pun kaget, ternyata penyelam kaos oblong telah sampai ke kedalaman 30 meter juga!
Lalu ia pun menyatakan kekagumannya dengan memberikan kode jempol dua. Namun ternyata penyelam kaos oblong itu membalasnya dengan kode SOS. Ia tenggelam!

Hikmah luar biasa ternyata terkandung dalam kisah di atas. Salah satunya, “Sudahkah kita mempersiapkan peralatan terbaik dalam mengarungi dunia ini?”. Keimanan, Akhlak yang Baik, Ibadah yang Benar, adalah salah tiga dari banyak hal yang harus kita persiapkan untuk menjadi peralatan atau bekal kita mengarungi dunia. Melanggar perintah agama jauh lebih mudah ketimbang menjalankannya, godaan dunia pun tak kunjung usai menerpa, harta, tahta, wanita.
Seperti KPK yang ribut sendiri sama ketua non-aktifnya yang juga melibatkan aparat kepolisian. Mereka seharusnya saling bahu membahu memberantas para penyelam kaos oblong. Para penyelam kaos oblong yang seringkali dikira orang penyelam profesional. Rumah mentereng, mobil seharga milyaran dan banyak hal lainnya yang mereka miliki saat ini membuat mereka seolah-olah menjadi para penyelam sukses.
Padahal para penyelam kaos oblong sedang tenggelam di dunia, terpesona oleh “ikan” harta dan “ubur-ubur” kekuasaan. Akibatnya mereka mencari cara apapun untuk mendapatkan semua hal itu, hal ini disebabkan sebelumnya mereka tidak mempersiapkan “perkakas” iman dengan kualitas jempolan untuk digunakan seraya menyelam. Meraka malah hanya bermodal kaos oblong dan celana pendek untuk mengarungi “lautan” dunia yang luas dan dalam ini.
Kita saat ini bukan tidak mungkin sedang tenggelam di dunia dan mengira diri kita seorang yang sedang menyelam dengan handal dan penuh persiapan. Tak ada salahnya kembali mempersiapkan diri sebelum kembali menyelam, selagi libur (untuk yang kuliah di UI) serta selagi “toko baju selam” Ramadhan akan kembali membekali kita menjadi insan yang lebih siap menghadapi pesona indahnya “lautan” dunia.
Tertarik membaca bukunya? silahkan hubungi toko buku terdekat atau teman terdekat yang rajin baca buku dan suka meminjamkan buku. Masih banyak nasihat atau tausiyah lain di buku bertajuk “Jalan Cinta Para Pejuang” ini yang menunggu untuk dibaca dan diambil hikmahnya. Semoga bermanfaat.

nb: Untuk mas Salim klo sempat membaca postingan ini, mohon ijin untuk me-reka ulang cerita di atas :D

Categories: Introspeksi, Nasihat, Opini, Resensi, Tausiyah

1 comment

  • [niken]

    hhh bosen libur tapi males klo udah masuk kuliah.
    ~nge-junk dulu

    Hmm, sekitar sebulan yg lalu seorang sahabat saya meminjamkan buku Jalan Cinta Para Pejuang ini, mgkn ia melihat raut2 kekosongan dlm muka saya, saya sih percaya saja bahwa apa yg dia berikan itu baik utk saya (kok jd nyeritain orang).

    Buku yg cukup inspiratif, cukup byk cerita sarat makna, dan cukup menohok jiwa raga.
    hmmh…

    btw saya takjub sama pemilik blog ini, lg sakit kok bikin postingan terus (baru terbit kan ini?), haduh -_-‘
    syafakallah.

    ~maap kepanjangan komennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>