100_4478

Teruntuk Saudaraku se-Tanah Air Indonesia

Bangsa ini sedang berada ditengah krisis kemiskinan, bangsa ini berada di tengah krisis pendidikan, bangsa ini berada di tengah krisis akhlak dan moral.

Apakah hati nurani ini ikhlas bangsa ini menuju kehancuran moral dan budaya?

Apakah hati ini ikhlas bangsa ini menuju kehancuran finansial?

Apakah hati nurani ini ikhlas 63 tahun kemerdakaan Indonesia,

Berakhir dengan bangsa yang bermental terjajah?

Kalau bukan kita yang peduli siapa lagi.

Penulis bukanlah orang yang paling benar, penulis bahkan belum menjadi sarjana, namun penulis hanya ingin menyerukan semangat perjuangan kepada seluruh pemuda bangsa yang masih memiliki nurani untuk membangun bangsa ini. Pada tanggal 2 Juli 2007 yang lalu, pemerintah Indonesia melalui Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan jumlah penduduk miskin 37,17 juta orang atau 16,58 persen dari total penduduk Indonesia selama periode bulan Maret 2006 sampai dengan Maret 2007. Hal ini bukan hal yang sepele, ini permasalahan bangsa.

Permasalah selanjutnya, krisis moral bangsa, saat ini pemuda Indonesia amat sangat mudah dipengaruhi oleh budaya luar, budaya luar yang saya maksud di sini adalah budaya yang negatif. Clubbing, Prompt Nigth dan kawan-kawannya, apakah anda prenah tahu bahwa dahulu, bangsa ini amat sangat menjunjung moral dan adab dalam pergaulan. Dahulu biskop – bioskop yang ada di Jakarta , ketika masih zaman-nya film bisu, atau tidak bersuara, tempat duduk untuk pria dan wanita di dalam bioskop itu terpisah, hal ini bertujuan menghindari tindakan – tindakan yang menyalahi nilai – nilai moral yang amat dijunjung tinggi oleh masyarakat pada saat itu.

Lain dahulu, lain sekarang, negara kita yang dahulu terkenal dengan keramahan, sopan santun, tutur kata yang baik dan moral masyarakat yang baik, kini telah berubah. Para pelajar yang doyan tawuran yang telah ber-”evolusi” menjadi mahasiswa bertindak anarkis, mereka beraksi hanya untuk mendapatkan korban dari pihak mahasiswa (yang bukan dari kalangan mereka), agar masyarakat bersimpati kepada mereka, dan membenarkan aksi yang mereka lakukan. Keramahan itu telah sirna, termakan emosi yang tak terkendali, dan nafsu untuk memenuhi kepentingan pribadi dan kelompok, tanpa tahu esensi dari aksi mahasiswa yang sebenarnya.

Hidayatullah.com–Hasil survei yang dilakukan oleh Annisa Fondation baru-baru ini cukup mengejutkan karena 42,3 persen pelajar perempuan telah melakukan hubungan seks pra-nikah.

Belum lagi moral dan mental pelajar yang telah di-luluhlantah-kan budaya luar, dari kutipan artikel diatas, kita bisa melihat bahwa, tak mengeherankan jika negara kita terkena azab Sang Pencipta, jika terjadi hal seperti yang disebutkan artikel diatas. Naudzubillah mindzalik.

Tetapi harapan belum sirna, masih ada pelajar yang ikhlas menuntut ilmu untuk memajukan negeri ini, untuk menyenangkan hati orang tuanya, untuk mendapat ridho Sang Khalik, yang berjuang menyebrangi sungai untuk sekolah, yang menjual koran untuk mendapat sesuap nasi. Masih ada mahasiswa, yang mengerti arti perjuangan pendahulunya dalam menggeser rezim penuh korupsi, yang menuntut ilmu setinggi mungkin dengan ikhlas, yang meninggalkan kampung halaman untuk merantau demi kehidupan bangsa yang lebih baik, yang tak jarang menangis karena takut esok akan kehabisan biaya untuk kuliah.

Bangkitlah saudaraku, para pelajar SMA, Mahasiswa di berbagai pelosok Indonesia, bangsa kita, nasibnya di masa yang sebentar lagi akan datang, ada di tangan kita. Jika sampai saat ini kita masih menyontek ketika ulangan ataupun ujian, maka jangan heran kita menjadi seorang koruptor baru yang menggerogoti bangsa ini. Bagi pembaca yang muslim/ah. Jika kita sampai saat ini belum pernah mendirikan ibadah shalat lima waktu secara konsisten, maka itu adalah gambaran kita yang tidak pernah bersyukur kepada Allah atas nikmatnya yang diberikan kepada kita, nikmat masih bisa browsing di tengah krisis listrik di negeri ini, nikmat masih bisa bernafas tanpa tabung oksigen yang berharga ratusan ribu rupiah.

Saudaraku, sekaranglah saatnya kita berubah, bukan saatnya lagi kita membuang-buang waktu. Cukup sudah kebodohan terjadi di negeri ini, jadilah harapan baru untuk rakyat Indonesia, jadilah penerus para pemimpin yang telah sekuat tenaga memperbaiki kebobrokan negeri ini, jadilah penegak hukum yang adil dan bijaksana, jadilah peneliti yang mencerdaskan bangsa dengan manfaat dari ilmu yang digalinya.

Semangat dan bangkitlah saudaraku, bukan hanya sekedar bicara, tapi niatkan hati dari sekarang, untuk meninggalkan hal-hal yang sia-sia, bangkitlah untuk kelangsungan negeri ini, di masa yang akan datang.

Categories: Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>